NARASITIME.com, Buton — Senja di pesisir Wabula kembali menyimpan cerita yang pelan-pelan menghangatkan hati: tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu, dan tentang sebuah mimpi sederhana yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Di tepi laut yang akrab dengan cerita tentang perjuangan hidup, sekelompok alumni SMP Negeri 1 Wabula angkatan 2000 memilih merawat persaudaraan mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna: menghadiahkan sebuah sampan kepada salah satu rekan mereka, Asriani—yang lebih dikenal sebagai Mama Inang.
Bantuan itu bukan sekadar benda, melainkan penanda ingatan yang tak pudar oleh waktu. Di antara riuh kehidupan masing-masing, mereka menyempatkan diri kembali pada satu titik yang sama: kebersamaan yang pernah tumbuh di bangku sekolah, kini menjelma dalam kepedulian nyata.
Mama Inang, bagi mereka, bukan sekadar nama. Ia adalah sosok yang akrab dengan laut, dengan matahari pagi, dan dengan kesunyian ombak. Selama ini, ia kerap melaut untuk memancing—kadang tanpa perahu, mengandalkan keberanian dan ketabahan di batas antara darat dan air.
“Ini bukan soal besar atau kecilnya bantuan,” ungkap salah seorang alumni yang mewakili angkatan 2000 kepada media ini, Sabtu (18/4/2026).
“Yang paling penting adalah bagaimana kami tetap menjaga rasa kebersamaan itu. Waktu boleh berjalan, jarak boleh memisahkan, tapi kami tidak ingin ikatan yang dulu terbangun di bangku sekolah itu hilang begitu saja,” sambungnya.
Ia menambahkan, inisiatif tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa persahabatan harus dirawat dengan tindakan nyata, bukan sekadar kenangan.
“Kami semua punya jalan hidup masing-masing, dengan kesibukan dan tanggung jawab yang berbeda. Tapi di balik itu, kami sadar bahwa ada teman-teman yang mungkin masih berjuang lebih keras. Di situlah hati kami tergerak. Apa yang kami lakukan ini mungkin sederhana, tapi kami ingin kehadiran kami tetap terasa,” katanya.
Menurut dia, sosok Mama Inang adalah cerminan keteguhan yang layak mendapat perhatian.
“Kami tahu bagaimana beliau berjuang. Melaut tanpa perahu, menghadapi risiko setiap hari, itu bukan hal yang mudah. Kami hanya ingin sedikit meringankan langkahnya. Semoga dengan perahu ini, beliau bisa melaut dengan lebih aman, lebih tenang, dan hasilnya pun bisa lebih baik,” ujarnya kembali.

Ia juga berharap, langkah kecil tersebut bisa menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya menjaga hubungan antar sesama.
“Persahabatan itu tidak boleh berhenti hanya di masa lalu. Harus ada aksi, sekecil apa pun. Kami percaya, kalau rasa kebersamaan itu terus dijaga, maka akan selalu ada jalan untuk saling membantu. Inilah bentuk silaturahim yang ingin kami rawat,” Tuturnya.
Di balik sampan yang kini bersandar di depan rumahnya, tersimpan cerita panjang yang selama ini dijalani Mama Inang dalam diam. Hidupnya berjalan di antara laut dan tenun—dua dunia yang ia jalani dengan kesabaran.
Sejak kecil, ia telah melaut, belajar dari ayahnya cara menombak dan memancing ikan. Laut menjadi ruang belajar sekaligus tempat bertahan hidup. Namun keterbatasan tak jarang menguji.
“Kadang saya turun melaut jalan kaki. Air sampai di dada, sampai di pinggang. Sementara saya tidak tahu berenang,” tuturnya.
Di saat banyak orang berlomba mengejar pendidikan tinggi atau pekerjaan mapan, Mama Inang hanya memendam satu keinginan sederhana: memiliki perahu sendiri agar bisa melaut dengan lebih aman.
“Kalau air laut surut, saya senang karena bisa cari ikan. Tapi kalau pasang, saya sering menangis—tidak ada uang untuk belanja,” katanya.
Di sela kehidupan sebagai nelayan, ia juga mulai belajar menenun sarung. Dari tiap helai benang, ia berharap ada tambahan penghasilan, meski masih di tahap awal.
Mimpi itu akhirnya datang tanpa diduga. Pada suatu sore di hari Jumat, telepon berdering. Tak lama kemudian, rekan-rekannya datang ke depan rumah, membawa sebuah perahu di atas mobil.
Kejutan itu membuatnya terdiam—haru dan bahagia menyatu dalam satu rasa.
“Masya Allah, saya sangat terharu. Saya hanya seorang janda, tapi diperhatikan seperti ini. Syukur Alhamdulillah, mimpi saya punya perahu akhirnya jadi kenyataan,” ujarnya.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh rekan angkatannya.
“Terima kasih banyak untuk semua teman-teman alumni SMP Wabula angkatan 2000. Ini hadiah terindah untuk saya. Semoga semuanya selalu sehat dan dimudahkan rezekinya,” ucapnya.
Sampan itu kini menjadi lebih dari sekadar alat. Ia adalah simbol bahwa persaudaraan tak berhenti di masa lalu—bahwa kenangan bisa berlayar, menemukan bentuknya kembali dalam kepedulian.
Di tengah arus zaman yang seringkali menjauhkan, kisah ini justru mengingatkan: bahwa silaturahim, jika dijaga, akan selalu menemukan jalannya pulang.





