Di Antara Janji Nikel dan Sunyi Kampung yang Perlahan Hilang

Oleh: Erwin Usman/Advokat, Direktur Eksekutif IMES

NARASITIME.com, Jakarta – Seorang pelajar mengirimkan pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang panjang.

“Kalau tambang nikel benar membawa kemajuan dan kesejahteraan, mengapa banyak kampung di sekitar tambang masih kesulitan air bersih, sulit mendapatkan pekerjaan yang layak, dan hidupnya tidak setenang dulu?”

Bacaan Lainnya

Pertanyaan itu layak dijawab bukan dengan slogan, melainkan dengan perenungan. Sebab di banyak daerah, nikel telah menjadi kata yang identik dengan investasi, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan industri hijau. Namun di sisi lain, ada kampung-kampung yang menyaksikan perubahan besar di depan mata mereka, tanpa selalu merasakan manfaat yang dijanjikan.

Dalam setiap rencana pertambangan, masyarakat biasanya disuguhi narasi yang nyaris seragam: lapangan kerja akan terbuka, ekonomi bergerak, dan desa akan berkembang. Narasi itu tidak sepenuhnya keliru. Masalahnya, kemajuan sering kali hanya diukur dari angka investasi dan nilai produksi, sementara kualitas hidup masyarakat yang hidup paling dekat dengan tambang justru luput dari perhatian.

Pertanyaan pertama yang patut diajukan adalah soal pekerjaan. Berapa banyak anak kampung yang benar-benar mendapat kesempatan bekerja? Berapa lama mereka bertahan dalam pekerjaan itu? Dan sejauh mana masyarakat lokal memperoleh posisi yang layak dalam rantai ekonomi yang dibangun oleh industri tambang?

Kebutuhan akan pekerjaan memang nyata. Anak-anak muda membutuhkan penghasilan. Keluarga harus menyambung hidup. Namun pembangunan tidak semestinya dipersempit menjadi pilihan tunggal antara menerima tambang atau tetap miskin.

Sejarah banyak daerah menunjukkan bahwa kesejahteraan juga dapat tumbuh dari sektor pertanian yang diperkuat, perikanan yang dilindungi, usaha kecil yang didukung, serta pariwisata yang dikelola dengan baik. Kampung memiliki sumber-sumber kehidupan yang telah menopang masyarakat jauh sebelum alat berat datang membuka jalan menuju kawasan tambang.

Karena itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah berapa banyak tambang yang masuk, melainkan apakah sumber kehidupan yang sudah ada tetap dapat bertahan setelah tambang beroperasi.

Hal lain yang sering dijadikan bukti kepedulian perusahaan adalah program tanggung jawab sosial atau CSR. Bantuan sembako, beasiswa, pembangunan rumah ibadah, hingga perbaikan fasilitas umum kerap dipamerkan sebagai wujud kontribusi perusahaan kepada masyarakat.

Tidak ada yang salah dengan bantuan itu. Namun ada satu hal yang perlu dipahami: CSR adalah bentuk bantuan, bukan pengganti atas kerusakan yang mungkin terjadi.

Sembako akan habis dikonsumsi. Dana bantuan akan selesai dibelanjakan. Spanduk penyerahan bantuan akan diturunkan setelah acara usai. Tetapi jika mata air mengering, hutan berkurang, kebun rusak, atau laut kehilangan produktivitasnya, dampaknya dapat dirasakan selama bertahun-tahun bahkan lintas generasi.

Air bersih tidak bisa diganti dengan paket bantuan. Sawah yang hilang tidak dapat dipulihkan hanya dengan seremonial. Laut yang tercemar tidak serta-merta kembali sehat karena sebuah program sosial.

Ada nilai-nilai yang tidak bisa dihitung dalam laporan tahunan perusahaan.

Kata “maju” juga patut dipertanyakan kembali.

Apa sebenarnya makna kemajuan bagi sebuah kampung?

Apakah kemajuan hanya berarti meningkatnya lalu lintas kendaraan industri? Ataukah kemajuan berarti warga dapat menikmati udara yang sehat, air yang jernih, dan lingkungan yang aman bagi anak-anak mereka?

Di sejumlah wilayah pertambangan, warga mulai mengeluhkan debu yang masuk ke rumah, kualitas air yang menurun, hingga berkurangnya ruang hidup yang dahulu menjadi bagian dari keseharian mereka. Nelayan harus melaut lebih jauh. Petani menghadapi perubahan kondisi lahan. Anak-anak tumbuh dalam lanskap yang berbeda dari yang dikenal orang tua mereka.

Kemajuan seharusnya tidak mengharuskan masyarakat kehilangan ketenangan hidup yang selama ini menjadi kekayaan kampung.

Pembangunan yang baik bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan warga yang tinggal di sekitarnya.

Ada pula ironi yang kerap muncul dalam diskusi tentang nikel.

Komoditas ini bernilai triliunan rupiah. Permintaannya meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik dunia. Negara memandangnya sebagai aset strategis.

Namun di banyak tempat, masyarakat yang hidup paling dekat dengan sumber daya itu justru masih bergulat dengan persoalan dasar: akses air bersih, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi yang merata.

Tanahnya berada di kampung. Hutannya berada di kampung. Airnya mengalir dari kampung. Risiko sosial dan ekologisnya ditanggung oleh kampung. Tetapi manfaat terbesar tidak selalu menetap di sana.

Kesenjangan antara nilai ekonomi yang dihasilkan dan kesejahteraan yang diterima masyarakat lokal menjadi pertanyaan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.

Pada akhirnya, perdebatan tentang tambang sesungguhnya bukan hanya soal ekonomi. Ia adalah soal waktu.

Perusahaan memiliki masa operasi. Investor memiliki horizon keuntungan. Pejabat memiliki masa jabatan. Bahkan hiruk-pikuk promosi investasi suatu hari akan berlalu.

Tetapi kampung tetap tinggal di tempat yang sama.

Anak-anak yang hari ini bermain di halaman rumah akan tumbuh dan mewarisi kondisi lingkungan yang ditinggalkan generasi sebelumnya. Mereka akan meminum air yang sama, menggarap tanah yang sama, dan menggantungkan hidup pada bentang alam yang sama.

Karena itu, menjaga hutan, sungai, pesisir, dan sumber air bukan semata-mata urusan lingkungan hidup. Ia adalah bentuk tanggung jawab kepada masa depan.

Kampung tentu tidak menolak kemajuan. Masyarakat juga tidak menolak pembangunan. Mereka menginginkan pekerjaan, pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang layak, serta kehidupan yang lebih sejahtera.

Namun kemajuan yang sesungguhnya tidak lahir dari kemampuan mengeksploitasi sumber daya sebesar-besarnya. Kemajuan lahir ketika pembangunan mampu menghadirkan kesejahteraan tanpa mengorbankan ruang hidup masyarakat yang menjadi fondasinya.

Sebab bagi warga kampung, hutan bukan sekadar hamparan pohon. Sungai bukan sekadar aliran air. Laut bukan sekadar bentang biru di cakrawala.

Semuanya adalah ingatan, kehidupan, dan masa depan.

Dan masa depan, seperti halnya kampung, tidak semestinya ditukar terlalu murah.

Pos terkait