Senja yang Pergi dari Kali Biru

NARASITIME.com, BUTON — Deretan gazebo yang berdiri di tepi Kali Biru di Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, kini tampak lengang. Beberapa bangunan kayu itu mulai lapuk dimakan waktu, sementara talut di pinggir sungai terlihat retak di beberapa bagian. Tempat yang dulu riuh oleh tawa dan percakapan warga kini lebih sering diselimuti sunyi.

Padahal, kawasan yang berada di jantung Kabupaten Buton itu pernah menjadi ruang berkumpul favorit masyarakat. Ketika matahari mulai condong ke barat, warga berdatangan ke tepian Kali Biru—atau yang juga dikenal sebagai Kali Lakua—untuk menikmati udara senja yang sejuk.

Di masa itu, sore di Kali Biru seperti panggung kecil kehidupan kota. Anak-anak berlari di sekitar tanggul, para pedagang sibuk menata gorengan dan es buah, sementara pengunjung duduk santai di gazebo sambil menatap aliran air yang mengalir pelan.

Bacaan Lainnya

Aroma kopi panas bercampur dengan wangi pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Percakapan ringan terdengar dari berbagai sudut, seolah-olah seluruh kawasan hidup dalam irama yang sama: irama santai setelah seharian bekerja.

Tak sedikit pula pengunjung yang datang dari Kota Baubau dan sekitarnya. Mereka menyempatkan diri singgah hanya untuk menikmati suasana sederhana di tepi sungai.

Keramaian itu terasa lebih kuat ketika Ramadan tiba. Menjelang azan magrib, kawasan Kali Biru berubah menjadi lautan manusia yang berburu takjil. Warna-warni minuman, aroma gorengan, dan cahaya senja yang memantul di permukaan air sungai membuat suasana terasa hangat sekaligus akrab.

Namun waktu perlahan mengubah wajah tempat ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Kali Biru mulai kehilangan denyutnya. Gazebo yang dulu penuh pengunjung kini sebagian rusak. Tanggul di pinggir sungai mulai terkikis. Lapak-lapak pedagang yang pernah menjadi nadi kehidupan kawasan itu satu per satu menghilang.

Beberapa pekan lalu, aparat Satpol PP Kabupaten Buton membongkar sejumlah lapak UMKM yang berdiri di kawasan tersebut. Penertiban dilakukan sebagai bagian dari rencana penataan kawasan oleh pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Alvin Akawijaya Putra dan Syarifudin Saafa sebagai Bupati dan Wakil Bupati Buton.

Namun setelah lapak-lapak itu hilang, kawasan Kali Biru justru terlihat semakin lengang.
Sebagian pedagang masih mencoba bertahan. Mereka berpindah ke bahu jalan di sekitar lokasi, menjajakan gorengan, es buah, dan berbagai jajanan yang biasa dicari warga—terutama menjelang waktu berbuka puasa.

Seorang pengunjung dari Baubau yang datang ke lokasi mengaku terkejut melihat perubahan kawasan tersebut. Ia mengatakan Kali Biru yang dulu ramai kini tampak jauh lebih sepi.

Kepala Desa Banabungi, La Ode Mursalim Patu, mengatakan pemerintah desa mendukung langkah penertiban yang dilakukan pemerintah daerah karena kawasan Kali Biru memiliki potensi besar untuk ditata.

“Kami dari pemerintah desa mendukung sepenuhnya tindakan Satpol PP agar kawasan itu bisa tertata dengan baik dan memiliki pengelolaan yang jelas,” kata Mursalim, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut dia, pemerintah desa sebelumnya juga beberapa kali melakukan kegiatan pembersihan kawasan bersama masyarakat serta sejumlah instansi.

“Kami dari pemerintah desa sudah beberapa kali melakukan pembersihan dengan melibatkan masyarakat, TNI, Polri, serta dinas terkait agar kawasan Kali Biru lebih bersih dan nyaman dikunjungi,” ujarnya.

Meski demikian, rencana penataan kawasan tersebut belum sepenuhnya berjalan. Salah satu kendala utama adalah status lahan yang masih berada di bawah Hak Guna Bangunan (HGB), sehingga pengelolaan kawasan belum memiliki kepastian.

Pemerintah desa berharap ada koordinasi antara pemerintah daerah dengan Badan Pertanahan Nasional untuk memastikan status lahan sekaligus menentukan arah pengelolaan kawasan.

Apalagi di tengah kondisi keuangan negara yang saat ini sedang tidak baik-baik saja dan adanya kebijakan efisiensi anggaran di berbagai daerah, langkah paling mendasar yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyelesaikan terlebih dahulu status lahan kawasan Kali Biru.

Tanpa kepastian tersebut, rencana revitalisasi berpotensi hanya menjadi proyek yang sia-sia. Penataan yang dilakukan hari ini bisa saja tidak bertahan lama dan kawasan itu berisiko kembali pada kondisi lama—tidak terkelola, semrawut, dan kehilangan fungsinya sebagai ruang publik.

Padahal lokasinya berada tepat di pusat ibu kota Kabupaten Buton—tempat yang semestinya menjadi wajah kota.

Kini yang tersisa hanyalah gazebo yang mulai menua, tepian sungai yang sepi, dan kenangan tentang senja-senja yang dulu begitu hidup di Kali Biru. Tanpa langkah yang jelas dari pemerintah daerah, senja yang pernah ramai di tempat ini bisa saja hanya tinggal cerita bagi warga.

Pos terkait