NARASITIME.com – Dentuman gendang berpadu tawa anak-anak menggema di Baruga Pasarwajo, Selasa (11/11/2025) siang kemarin. Di tengah semarak itu, masyarakat adat Takimpo–Kambulabulana–Pasarwajo kembali menggelar ritual sakral Weano Boba, bagian penting dari Pesta Adat Pikoelaliwu yang hanya digelar dua tahun sekali.
Tradisi yang sarat makna itu menjadi panggung kebanggaan masyarakat lokal. Tak hanya warga setempat, banyak perantau dari berbagai daerah rela pulang kampung demi menyaksikan langsung prosesi yang menjadi simbol regenerasi dan silaturahmi masyarakat adat di jantung Buton.
Dalam prosesi tersebut, anak-anak—khususnya bayi dan balita yang telah menjalani ritual Picundupia di Pantai Wajo—diarak menuju Baruga diiringi tabuhan gendang tradisional. Di sana, mereka disarati oleh tetua adat, sebagai tanda pengenalan pertama sang anak ke dalam komunitas adat.

Sebagai ungkapan syukur dan kebahagiaan, para orang tua melemparkan uang kertas dan koin kepada anak-anak yang memenuhi halaman baruga, dalam tradisi yang dikenal dengan sebutan “lelo uang.” Uang yang ditebarkan itu bukan sekadar hiburan, melainkan simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan atas lahirnya generasi penerus.
Tradisi ini juga menjadi ajang penghormatan. Para tamu dan keluarga memberi pasali—tanda terima kasih dalam bentuk uang—kepada penari, penabuh, dan para tetua adat. Suasana pun berlangsung hangat, penuh tawa, dan semangat kebersamaan yang menyatukan lintas generasi.
Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra, S.H. bersama Kapolres Buton AKBP Ali Rais Ndraha, S.H., S.I.K., M.M.Tr. turut hadir dalam kemeriahan tersebut. Keduanya tampak berbaur dengan masyarakat, bahkan ikut melemparkan lelo uang bersama warga di Baruga Pasarwajo.

“Saya sangat mengapresiasi tradisi Weano Boba ini. Warisan budaya seperti ini adalah identitas kita sebagai orang Buton. Saya bangga menjadi bagian dari masyarakat Pasarwajo yang mampu menjaga nilai-nilai luhur ini di tengah modernisasi,” ujar Bupati Alvin.
Ia menegaskan, pelestarian tradisi lokal bukan hanya bentuk penghormatan pada leluhur, tapi juga potensi besar bagi pengembangan pariwisata budaya Buton.
“Tradisi ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tapi juga punya daya tarik luar biasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemerintah daerah tentu akan terus memberi dukungan agar Weano Boba tetap hidup dan berkembang,” tambahnya.

Bagi masyarakat Buton, Weano Boba bukan sekadar ritual adat. Ia adalah cermin dari rasa syukur, gotong royong, dan kehangatan sosial yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakatnya.
Dan di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Weano Boba menjadi pengingat bahwa kearifan lokal masih menjadi denyut nadi yang menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam di Bumi Buton.






