NARASITIME.com – Masyarakat adat Kondowa—yang menaungi Desa Kondowa dan Dongkala—hidup dalam tatanan yang berlandaskan asas rumah tangga. Bagi mereka, seluruh warga adalah saudara dalam rumah besar bernama adat. Di dalam struktur adat, Parabela dipandang sebagai Bapak Masyarakat, sedangkan Imam menjadi Ibu Masyarakat—dua poros yang memayungi rakyat, menjaga adat dan iman sebagaimana kedua orang tua menjaga anak keturunannya.
Selain itu, Desa Kondowa dan Dongkala juga sejak dahulu hidup dalam tatanan budaya yang berlandaskan asas kekeluargaan dengan falsafah “Pi’ana-anano Lompa, Pi’ana-anano Koicu“. Prinsip ini tidak hanya menjadi nilai sosial, tetapi juga menjadi dasar struktur kelembagaan adat yang turun-temurun dijaga. Bagi masyarakat Kondowa dan Dongkala, seluruh warga adalah satu keluarga besar, satu darah yang disatukan oleh tanah, leluhur, dan kepercayaan kolektif.
Pola hidup ini diyakini telah ada sejak terbentuknya Kadie Kondowa, ketika adat bukan ditulis, melainkan lahir dari laku hidup: bekerja bersama, berdoa bersama, dan mensyukuri kehidupan tanpa membedakan darah satu dengan lainnya.
Dalam struktur adat, Parabela berkedudukan sebagai Bapak Masyarakat Kondowa dan Dongkala— pemegang kewibawaan tertinggi dalam wilayah adat, penentu arah kebijakan, sekaligus penjaga nilai-nilai warisan leluhur. Di sisi lain, Imam Kondowa dan Dongkala dipandang sebagai Ibu Masyarakat, simbol kelembutan, penjaga moral, dan pembimbing urusan keagamaan. Keduanya ibarat dua poros yang saling menguatkan: satu menjaga adat, satu menjaga iman, keduanya memayungi rakyat sebagaimana orang tua menaungi anak-anaknya.
Sejarah tradisi ini diyakini telah hidup sejak masa awal pembentukan Kadie Kondowa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Pesta adat, musyawarah, dan struktur kekeluargaan bukan hadir karena dibuat, tetapi tumbuh sebagai hasil dari perjalanan panjang kehidupan leluhur yang menyatukan kerja, doa, dan rasa syukur dalam satu kesatuan adat.
Pesta Adat Kondowa: Penanda Musim Tanam dan Doa Kesuburan Alam
Pesta Adat Kondowa merupakan warisan leluhur tertua yang menandai datangnya musim tanam. Awal prosesi ditandai dengan pukulan gendang pertama di Baruga, dan selama tradisi dijalankan secara penuh, gendang dibunyikan empat puluh malam berturut-turut. Kini, seiring perkembangan zaman, durasi penyelenggaraan mengalami penyesuaian menjadi 15 hari, namun ritual inti tetap sama, tidak berkurang maknanya, tidak berubah rohnya—hanya waktu yang bergeser, bukan adatnya.
Pemukulan gendang bukan sekadar bunyi seremonial; ia adalah simbol panggilan kepada leluhur, tanda bergeraknya musim, serta isyarat bahwa masyarakat memasuki masa persiapan dan permohonan berkah.
Pada siang hari, biasanya warga Desa Kondowa dan Dongkala bekerja membersihkan kebun, turun melaut dan sebagian melaksanakan keseharian lainya. Ketika malam tiba, mereka kembali ke Baruga untuk menyalakan kembali denyut adat melalui gendang dan musyawarah. Di sanalah keputusan dan kesepakatan dimufakati, tanpa hirarki suara—sebuah demokrasi adat yang telah hidup jauh sebelum istilah demokrasi dikenal luas.

Malam Pikolambua: Inti Ritual Sebelum Hari Pesta
Malam sebelum puncak pesta adat menjadi malam paling sakral, disebut Pikolambua. Pada malam ini, seluruh proses adat ditutup dan disempurnakan.
Ketika ritual mencapai puncaknya, masyarakat kembali ke rumah masing-masing, namun Parabela dan Imam tetap tinggal di Galampa hingga subuh menjelang. Tidak ada lagi keramaian, tidak ada suara, hanya keduanya yang menjaga malam dengan doa, keheningan, dan kewibawaan adat. Di titik inilah pesta adat dianggap “lahir” — dari malam yang dijaga oleh dua poros kehidupan masyarakat.
Kabaria: Pagi Sebelum Pesta, Laut Menjadi Sumber Berkah
Sehari sebelum pesta adat berlangsung, masyarakat melaksanakan Kabaria, yaitu pencarian ikan di kawasan Kaombo yang telah ditetapkan oleh lembaga adat. Hasil tangkapan tidak boleh dijual, tidak boleh disimpan pribadi. Semuanya disajikan pada hari pesta adat sebagai hidangan bersama. Kabaria menjadi simbol persahabatan manusia dengan laut, sebab laut bukan hanya ruang tangkapan, melainkan saudara tempat kehidupan digantungkan.

Hari Pesta: Panji, Doa, dan Kembali Menanam
Hari pelaksanaan pesta adat dimulai dengan ritual pemasangan Panji “Alitunani” dan “Alifirisi” oleh tokoh adat dan tokoh agama, dan Parabela menjadi sosok terakhir yang memasangnya. Panji didirikan pada empat sudut Galampa, dan tiap-tiap pemasangan panji diiringi dengan lantunan suara adzan oleh tokoh agama. Pemasangan panji pada masing-masing sudut Galampa melambangkan penjagaan pada empat mata angin. Pada masa lampau, panji ditancapkan pada empat sudut kampung, menjaga seluruh ruang kehidupan. Kini titik ritual berpusat di Galampa, tetapi makna perlindungan adat tetap sama — Panji adalah simbol tegaknya masyarakat.
Setelah Panji berdiri, doa dipanjatkan, gendang dibunyikan kembali dalam irama suka cita. Ikan hasil Kabaria dihidangkan, masyarakat makan bersama, saling mendoakan, saling memaafkan, dan memohon agar musim tanam membawa rezeki yang baik.
Pesta adat ini menjadi simpul antara masa lalu dan masa depan. Ia mengingatkan bahwa tanah yang ditanami hari ini adalah warisan leluhur yang dijaga, dan hasil yang diperoleh esok adalah rezeki yang wajib disyukuri. Selama adat dijaga, selama musyawarah dijalankan, selama kabaria tetap dilaksanakan, maka kehidupan masyarakat Kondowa dan Dongkala akan selalu berada dalam lingkar yang diberkahi.
Pesta adat bukan akhir prosesi, tetapi awal siklus baru — sebuah penanda bahwa tanah kembali siap digarap, laut siap disyukuri, dan masyarakat siap melanjutkan kehidupan dalam restu leluhur dan ridha Allah SWT.


