Pernikahan yang Berubah Duka di Jalan Poros Kondowa–Wabula

NARASITIME.com, Buton — Langit mendung menggantung rendah pada Senin sore, (6/4/2026). Di Desa Bajo Bahari, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton yang semula bersiap menyambut hari bahagia, kabar duka justru datang lebih dulu. Sebuah kecelakaan lalu lintas di jalan poros Kondowa–Wabula merenggut nyawa seorang warga, sementara satu lainnya terbaring dengan luka berat.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Jumasa. Ia tewas di lokasi kejadian setelah kendaraan yang ditumpanginya terlibat tabrakan. Sementara itu, Doni, korban lainnya, mengalami patah kaki dan kini menjalani perawatan di RS Palagimata.

Bacaan Lainnya

Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan bagi warga. Ia datang di ambang perayaan. Keluarga besar Jumasa sejatinya tengah bersiap menggelar pesta pernikahan cucunya pada keesokan harinya Selasa siang, (07/4). Namun, rencana yang telah disusun berubah menjadi iring-iringan duka. Hari yang seharusnya dipenuhi tawa dan doa restu, beralih menjadi prosesi pemakaman.

Warga menyoroti kondisi jalan poros Kondowa–Wabula yang dinilai membahayakan. Bahu jalan yang ditumbuhi rumput tinggi serta sejumlah titik jalan berlubang disebut mengganggu jarak pandang pengendara, baik roda dua maupun roda empat, terlebih saat cuaca mendung atau menjelang senja.

Kepala Desa Bajo Bahari, Nusir, SH, menyampaikan keprihatinan sekaligus kritik terhadap lambannya penanganan infrastruktur di wilayah tersebut. Ia menilai kondisi jalan yang dibiarkan seperti itu telah lama dikeluhkan warga.“Ini bukan baru sekali kami sampaikan. Keluhan soal rumput di bahu jalan yang tinggi dan lubang di badan jalan sudah berulang kali kami teruskan. Tapi sampai hari ini belum ada penanganan serius,” kata Nusir kepada media ini, Kamis (09/4/2026).

Menurut dia, keterbatasan jarak pandang akibat semak yang menutup bahu jalan sangat berbahaya, terutama di tikungan. “Pengendara sering tidak bisa melihat kendaraan dari arah berlawanan. Apalagi kalau sama-sama melaju dengan kecepatan tinggi, potensi tabrakan sangat besar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya perawatan rutin terhadap ruas jalan tersebut. “Seharusnya ada jadwal pemeliharaan berkala. Jangan menunggu sampai ada korban jiwa baru bergerak. Jalan ini akses utama masyarakat, bukan jalan kecil yang bisa diabaikan,” kata dia.

Nusir mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam menjamin keselamatan warga. “Apakah harus ada korban lagi baru diperbaiki? Sampai kapan kondisi seperti ini dibiarkan? Ini menyangkut nyawa manusia,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera menginstruksikan dinas terkait untuk turun langsung membersihkan bahu jalan dan memperbaiki titik-titik yang rusak. “Kami tidak minta yang muluk-muluk. Minimal rumput dibersihkan, lubang ditambal, sehingga pengendara bisa melintas dengan aman,” kata Nusir.

Lebih jauh, ia menilai kecelakaan tersebut menjadi peringatan keras bagi semua pihak. “Peristiwa ini harus jadi alarm. Jangan sampai kejadian serupa terulang hanya karena kita lalai merawat fasilitas yang seharusnya dijaga,” ujarnya.

Bagi warga Bajo Bahari, peristiwa ini meninggalkan luka yang dalam. Di antara hamparan jalan yang sunyi, tersimpan cerita tentang sebuah pesta yang tak pernah sempat dimulai—tentang janji bahagia yang pupus di tikungan yang tertutup ilalang.

Pos terkait