Di Rumah 3×6 Meter, Enam Jiwa Berdesakan: Potret Sunyi yang Terlewat dari Derap Pembangunan

Kondisi Rumah La Mardin, salah satu Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton.

NARASITIME.com, Buton — Di balik riuhnya program pembangunan dan janji bantuan perumahan, masih ada kisah yang berjalan pelan, nyaris tak terdengar. Di Desa Koholimombono, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, sebuah keluarga hidup dalam ruang sempit yang menampung harapan sekaligus keterbatasan.

La Mardin, seorang warga desa, hingga kini bertahan di rumah sederhana berukuran sekitar 3 x 6 meter bersama istri dan empat anaknya. Rumah itu hanya memiliki satu kamar. Di ruang itulah mereka tidur, beristirahat, dan anak-anak mencoba belajar—berbagi tempat di tengah kondisi yang serba terbatas.

Keterbatasan ekonomi membuat La Mardin belum mampu memperbaiki rumahnya secara mandiri. Dinding dan ruang yang sempit menjadi saksi keseharian keluarga itu, di mana kebutuhan dasar akan hunian layak masih jauh dari terpenuhi.

Bacaan Lainnya

Sejumlah warga sekitar mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberi perhatian melalui program bantuan rumah layak huni atau bedah rumah.

Salah satu tokoh masyarakat setempat menilai kondisi yang dialami keluarga La Mardin sudah selayaknya menjadi prioritas. “Dengan empat anak dalam satu kamar, ini bukan sekadar sempit, tapi sudah memprihatinkan. Kami berharap ada langkah nyata dari pemerintah,” ujarnya.

Kisah La Mardin menjadi potret nyata bahwa di sejumlah wilayah pedesaan, persoalan hunian layak masih menjadi pekerjaan rumah. Di tengah berbagai program yang digaungkan, tidak semua keluarga merasakan dampaknya secara langsung.

Di rumah kecil itu, anak-anak tetap tumbuh, meski ruang gerak mereka terbatas. Mereka belajar dalam kondisi yang jauh dari ideal, beristirahat dalam ruang yang sama, dan menjalani hari dengan segala kekurangan.

Situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan tak hanya soal angka dan laporan, melainkan tentang seberapa jauh kebijakan mampu menjangkau mereka yang hidup di pinggiran.

Harapan kini tertuju pada pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga kementerian terkait agar kondisi keluarga La Mardin segera mendapat perhatian. Bagi mereka, rumah layak huni bukan sekadar bangunan, melainkan ruang untuk tumbuh, belajar, dan menjalani hidup dengan lebih manusiawi.

Pos terkait